BIRUL WALIDAIN (Berbakti Kepada Kedua Orang tua)

BIRUL WALIDAIN  (Berbakti Kepada Kedua Orang tua)

BIRUL WALIDAIN  (Berbakti Kepada Kedua Orang tua)

Allah berfirman: 
{وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ}
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. (Luqman: 14)
Mujahid mengatakan, yang dimaksud dengan al-wahn ialah penderitaan mengandung anak. Menurut Qatadah, maksudnya ialah kepayahan yang berlebih-lebihan. Sedangkan menurut Ata Al-Khurrasani ialah lemah yang bertambah-tambah.
Firman Allah Swt.:
{وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ}
dan menyapihnya dalam dua tahun. (Luqman: 14)

Hadits pertama: 
Dari Abu Hurairoh ia berkata: "Rasulullah bersabda: "Seorang anak tidak dapat membalas ayahnya, kecuali anak tersebut mendapati ayahnya menjadi budak kemudian ia membelinya dan memerdekakannya". (HR. Muslim dan Abu Dawud). 
Makna hadits tersebut adalah bahwa seorang anak tidak dapat membalas jasa ayahnya, kecuali jika anak tersebut mendapati ayahnya sebagai budak yang dimiliki oleh orang lain kemudian ia memerdekakannya, yakni membebaskan dari perbudakan dan perhambaan dari orang lain (tuannya) sehingga ayahnya menjadi orang yang merdeka karena memerdekakan budak itu adalah pemberian yang paling utama yag diberikan oleh seseorang kepada yang lain.  

Hadits kedua: 
Dari Abdullah Bin Mas'ud berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah: "Amalan apakah yang dicintai oleh Allah" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Aku bertanya lagi: "Kemudian apa" Beliau menjawab: "Jihad dijalan Allah". (HR. Al-Bukhari dan Muslim).  

Hadits ketiga: 
Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: "Berbaktilah kepada bapakbapak kamu niscaya anak-anak kamu akan berbakti kepada kamu. Hendaklah kamu menjaga kehormatan niscaya istri-istri kamu akan menjaga kehomatan". (HR. Ath-Thabrani dengan sanad hasan).  

Hadits keempat: 
Dari Asma binti Abu Bakar ia berkata: "Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah . Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah dengan mengatakan: "Ibuku mendatangiku dan dia menginginkan aku (berbuat baik kepadanya), apakah aku (boleh) menyambung (persaudaraan dengan) ibuku" beliau bersabda: "ya, sambunglah ibumu". (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 
Imam Syafi'i Rahimahullah berkata: "Menyambung persaudaraan itu bisa dengan harta, berbakti, berbuat adil, berkata lemah lembut, dan saling kirim surat berdasarkan hukum Allah. Tetapi tidak boleh dengan
memberikan walayah (kecintaan dan pembelaan) kepada orang-orang yang terlarang untuk memberikan walayah kepada mereka (orang-orang kafir)...." 
Ibnu Hajar Rahimahullah bekata: "Kemudian bahwa berbakti, menyambung persaudaraan dan berbuat baik itu tidak mesti dengan mencintai dan menyayangi (terhadap orang kafir walaupun orang tuanya) yang hal itu dilarang di dalam firman Allah : Kamu tidak akan menjumpai satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. (AlMujadilah: 22), karena sesungguhnya ayat ini umum untuk (orang-orang kafir) yang memerangi ataupun yang tidak memerangi". (Fathul Bari V/ 233).
Dalam kitabul 'Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa'ad bin Malik , dia berkata: "Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata: "Hai Sa'ad! Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu!" Aku menjawab: "Hai Ibu! Jangan lakukan itu". Sungguh dia tidak makan, sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari, sehingga tubuhnya menjadi letih sekali. Setelah aku melihatnya demikian aku berkata: "Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika kamu punya seratus nyawa, lalu kamu menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau dapat makan maupun tidak sesuai dengan kehendakmu". (Tafsir Ibnu Katsir III/791). 

Hadits kelima: 
Dari Abu Usaid Malik bin Rabi'ah As-Sa'idi berkata: "Ketika kami sedang duduk dekat Rasulullah , tiba-tiba datang seorang laki-laki dari (suku) Bani Salamah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang aku dapat lakukan untuk berbakti kepada kedua orangtuaku setelah keduanya wafat Beliau bersabda: "Ya, yaitu mendoakan keduanya, memintakan ampum untuk keduanya, menunaikan janji, menyambung persaudaraan yang tidak disambung kecuali karena keduanya, dan memuliakan kawan keduanya". (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban di dalam sahihnya)  Hadits keenam: 
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu (dari perbuatan) durhaka kepada para ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan apa yang menjadi kewajibanmu untuk diberikan, dan menuntut apa yang tidak menjadi hakmu. Allah juga membenci tiga hal bagi kamu desas-desus, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (HR. AlBukhari dan lainnya) 
 
Tentang cara berbakti kepada kedua orangtua yang masih hidup, secara ringkas adalah sebagai berikut: 

1. Mengajak masuk agama Islam jika belum Islam.  
2. Mengajarkannya kepada pemahaman yang benar (Ahlus Sunnah)  
3. Mentaati perintah mereka selama itu bukan maksiat.  
4. Mendahulukan kepentingan mereka daripada kepentingan sendiri, bahkan daripada ibadah yang sunnah.  
5. Membantu mereka dengan harta, membelikan kebutuhan mereka, dll.  
6. Berkata yang baik dan lemah lembut kepada mereka, tidak memanggil langsung dengan namanya, tidak bersuara tinggi dan ketus, dll.  
7. Mendoakan kebaikan untuk mereka, seperti mudah-mudahan mereka mendapatkan hidayah (Islam / sunnah) dan lainnya.  
8. Berbuat baik kepada mereka seperti: melayani kebutuhan mereka, datang jika mereka memanggil dan lain-lain. 
 
Adapun berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat, adalah sebagaimana yang tersebut pada hadits di atas yaitu: 


1. Memohonkan ampun untuk mereka jika semasa hidupnya mereka sebagai orang Islam.  
2. Menunaikan janji mereka.  
3. Memuliakan kawan-kawan mereka.  
4. Menyambung persaudaraan kepada kerabat mereka.   

Semoga Bermanfaat

HUKUM PUASA RAMADHAN

HUKUM PUASA RAMADHAN 
Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan “shaum”. Shaum secara bahasa bermakna imsak (menahan diri) dari makan, minum, berbicara, nikah dan berjalan. Sedangkan secara istilah shaum bermakna menahan diri dari segala pembatal dengan tata cara yang khusus.

HUKUM PUASA RAMADHAN itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan mukim (tidak melakukan safar/ perjalanan jauh). Yang menunjukkan bahwa HUKUM PUASA RAMADHAN itu wajib adalah dalil Al Qur’an, As Sunnah bahkan kesepakatan para ulama (ijma’ ulama).  
Di antara dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah Ta’ala, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183) 
Dalil dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.”(HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16, dari ‘Abdullah bin ‘Umar)

Wajibnya puasa ini juga sudah ma’lum minnad dini bidhoruroh yaitu secara pasti sudah diketahui wajibnya karena puasa adalah bagian dari rukun Islam (Ar Roudhotun Nadiyah, hal. 318). Sehingga seseorang bisa jadi kafir jika mengingkari wajibnya hal ini.

Peringatan bagi Orang yang Sengaja Membatalkan Puasa 

Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ”Naiklah”. Lalu kukatakan, ”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu  aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” 
Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.”(HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 7/263, Al Hakim 1/595 dalam mustadroknya. Adz Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Muslim namun tidak dikeluarkan olehnya. Penulis kitab Shifat Shaum Nabi (hal. 25) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yang enggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali. Renungkanlah hal ini, wahai saudaraku! 

Perlu diketahui pula bahwa meninggalkan puasa Ramadhan termasuk dosa yang amat berbahaya karena puasa Ramadhan adalah puasa wajib dan merupakan salah satu rukun Islam. Para ulama pun mengatakan bahwa dosa meninggalkan salah satu rukun Islam lebih besar dari dosa besar lainnya. Adz Dzahabi sampai-sampai mengatakan, “Siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadhan, bukan karena sakit (atau udzur lainnya, -pen), maka dosa yang dilakukan lebih jelek dari dosa berzina, lebih jelek dari dosa menegak minuman keras, bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka sebagai orang-orang munafik dan sempalan.

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal

7 Keutamaan Puasa yang Harus Diketahui

7 Keutamaan Puasa yang Harus Diketahui

1. Keutamaan Puasa yang pertama adalah jalan meraih takwa 

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Berfirman :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) }
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.

Melalui ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى ber-khitab kepada orang-orang mukmin dari kalangan umat ini dan memerintahkan kepada mereka berpuasa, yaitu menahan diri dari makan dan minum serta bersenggama dengan niat yang ikhlas karena Allah Swt. Karena di dalam berpuasa terkandung hikmah membersihkan jiwa, menyucikannya serta membebaskannya dari endapan-endapan yang buruk (bagi kesehatan tubuh) dan akhlak-akhlak yang rendah.

2. Keutamaan Puasa Yang Ke-2 adalah adalah penghalang dari siksa neraka 

Dari Jabir bin ‘Abdillah رضى الله عنه ;  Rasulullah ﷺ bersabda: 

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدْ مِنَ النَّارِ

“Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits yang shahih]

3. Keutamaan Puasa yang Ke-3 adalah Amalan puasa akan memberikan syafaat pada hari kiamat kelak.
Dari Abdullah bin Amr رضى الله عنه  Rasulullah ﷺ Bersabda :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Maka keduanya akan memberi syafa’at” (Diriwayatkan oleh Ahmad 6626, Hakim 1/554, Abu Nu’aim 8/161 dari jalan Huyaiy bin Abdullah dari Abdurrahman Al-hubuli dari Abdullah bin ‘Amr, dan sanadnya hasan. Al-Haitsami berkata di dalam Majmu’ Zawaid 3/181 setelah menambah penisbatannya kepada Thabrani dalam Al-Kabir : “Dan perawinya adalah perawi shahih”)

4. Keutamaan Puasa yang Ke-4 Orang yang berpuasa akan mendapatkan pengampunan dosa.
Dari Abu Hurairah رضى الله عنه  Rasulullah ﷺ Bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

5. Keutamaan Puasa yang Ke-5 adalah Puasa menjadi pengekang syahwat 

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”(HR. Bukhari, no. 38 dan Muslim, no. 760.)
Syabab (pemuda) menurut ulama Syafi’iyah adalah yang telah baligh namun belum melampaui usia 30 tahun. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 9:154.)
Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa puasa dapat mengekang syahwat dan mengekang kejelekan mani sebagaimana orang yang sedang dikebiri

6. Keutamaan Puasa yang ke-6 Adalah Pintu surga Ar-Rayyan bagi orang yang berpuasa 

Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan”. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.“

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Ar-Rayyan dengan mem-fathah-kan huruf ra’ dan men-tasydid huruf ya’, mengikuti wazan fi’il (kata kerja) dari kata ‘ar-riyy’ yang maksudnya adalah nama salah satu pintu di surga yang hanya dikhususkan untuk orang yang berpuasa. Dari sisi lafal dan makna ada kaitannya karena kata ar-rayyan adalah turunan dari kata ar-riyy yang artinya bersesuaian dengan keadaan orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa kelak akan memasuki pintu tersebut dan tidak pernah merasakan haus lagi.” (Fathul Bari, 4:131)

7. Keutamaan Puasa Yang Ke-7 adalah Orang yang berpuasa memiliki waktu mustajab (terkabulnya doa) 

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi (HR. Ahmad, 2:305. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya.)

Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal


Keutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan


Keutamaan Bulan Ramadhan

1.      Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran
Allah berfirman :
{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185) }
Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang ba-til). Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu; dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.
Allah Swt. memuji bulan Ramadan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai bulan yang padanya diturunkan Al-Qur'an yang agung ini adalah salah satu Keutamaan Bulan Ramadhan. Sebagaimana Allah mengkhususkan bulan Ramadan sebagai bulan diturunkan-Nya Al-Qur'an, sesungguhnya telah disebutkan oleh hadis bahwa pada bulan Ramadan pula kitab Allah lainnya diturunkan kepada para nabi Sebelum Nabi Muhammad Saw.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا عمْران أَبُو الْعَوَّامِ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ -يَعْنِي ابْنَ الْأَسْقَعِ-أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "أُنْزِلَتْ صُحُف إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ. وَأَنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لسِتٍّ مَضَين مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشَرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ  وَأَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ"
Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Imran Abul Awwam, dari Qatadah, dari Abul Falih, dari Wasilah (yakni Ibnul Asqa), bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadan, sedangkan Al-Qur'an diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadan.
Telah diriwayatkan pula melalui hadis Jabir ibnu Abdullah yang di dalamnya disebutkan:

أَنَّ الزَّبُورَ أُنْزِلَ لثنتَي عَشْرَةَ [لَيْلَةً] َلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَمَانِي عَشْرَةَ،
Bahwa kitab Zabur diturunkan pada tanggal dua belas Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal delapan belasnya.
Sedangkan kalimat selanjutnya sama dengan hadis di atas. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Murdawaih.
Adapun lembaran-lembaran atau suhuf, kitab Taurat, Zabur, dan Injil, masing-masing diturunkan kepada nabi yang bersangkutan secara sekaligus. Lain halnya dengan Al-Qur'an, diturunkan sekaligus hanya dari Baitul 'Izzah ke langit dunia; hal ini terjadi pada bulan Ramadan, yaitu di malam Lailatul Qadar. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam penuh kemuliaan. (Al-Qadar: 1)
2. Keutamaan Bulan Ramadhan yang ke 2, Setan-setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka ketika Ramadhan tiba
Dari Abu Hurairah R.A, Rasulullah ﷺ  bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ketika Ramadhan datang maka dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dirantailah syetan-syetan. (Hadits Riwayat Al-Bukhari nomor 1899, dn Muslim nomor 1079).
Syekh Abdul Aziz Alu Syaikh sebagaimana dalam muqaddimah Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah nomor 61 khusus Ramadhan dan terdapat dalam sebagian riwayat , tentang “pembatasan belenggu dan pengikatan (hanya) terhadap marodatus syayathien (syetan-syetan yang kuat durhakanya)”. Maka berbeda-beda pendapat para ulama dalam penjelasan dan keterangannya.
  • Di antara mereka ada yang berkata: Sesungguhnya diikatnya syetan itu khusus marodatus syayathien (syetan yang durhakanya kuat) bukan yang lainnya, untuk mengurangi kejahatan di bulan (Ramadhan) ini.
  • Sebagian ulama berkata: keutamaan ini hanyalah diperoleh oleh orang-orang yang puasanya dijaga syarat-syaratnya dan dijaga adab-adabnya…
  • Ulama yang lain berkata, dan yang ini lebih dekat pada kebenaran insya Allah: bahwa diikatnya syetan-syetan itu adalah sebenarnya, dan tidak mesti dari diikatnya seluruh syetan-syetan akan tidak terjadi kejahatan dan maksiat; karena hal itu ada pula sebab-sebab dari selain syetan, seperti hawa nafsu yang jahat dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk, dan syetan-syetan (dari jenis) manusia; maka maksud dari itu adalah bagaimanapun sesungguhnya bulan (Ramadhan) ini adalah kesempatan bagi orang yang diberi pertolongan oleh Allah dan dibuka hatinya untuk menerima ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi dari maksiat-maksiat karena banyaknya sebab-sebab dan factor-faktor yang mendorongnya (untuk taat kepada Allah dan menjauhi maksiat)
3. Keutamaan Bulan Ramadhan ke 3, Terdapat malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan

إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam penuh kemuliaan. (Al-Qadar: 1)

إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةٍ مُبارَكَةٍ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati. (Ad-Dukhan: 3)
Yang dimaksud malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar.

4. Keutamaan Bulan Ramadhanke 4, Bulan Ramadhan adalah salah satu waktu dikabulkannya doa
Dari Jabir bin ‘Abdillah; Rasulullah g bersabda “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan apabila setiap muslim memanjatkan doa maka pasti dikabulkan.”(HR. Al-Bazaar. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 10:149 mengatakan bahwa perawinya tsiqah (terpercaya). Lihat Jami’ul Ahadits, 9:224.)
Nah Itulah Keutamaan Bulan Ramadhan


Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal

Pacaran Haram!! Cara Mengenali Calon Istri Tanpa Pacaran

Dalam Islam, pacaran adalah hal yang dilarang, tetapi timbul pertanyaan, bagaimana seseorang bisa mengenal calon istri kalau tidak pacaran? Islam lalu menjawab, ada 3 cara dalam Islam mengenal calon istri tanpa pacaran.
1. Melihat sesuatu yang menarik dari calon pasangan kita
Sumber: leladies.com
Yang pertama adalah melihat sesuatu yang menarik dari calon pasangan kita dan tolak ukurnya hanya wajah dan punggung telapak tangan saja.Ulama fikih mengatakan, bahwa wajah memberikan gambaran dari kepala sampai ke perutnya, dan punggung telapak tangan memberikan gambaran dari kemaluan sampai ke kakinya.
Cara ini dilakukan untuk melihat gambaran tubuh atau fisik calon pasangan tersebut baik atau buruk.
2. Mengenali keluarga calon pasangan
Sumber: kisahhikmah.com
Ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam mengenali keluarga calon pasangan.
  • Keluarga ayah dari calon pasangan kita akan mewariskan fisik kepada anak keturunan kita nanti. Contoh: keluarga ayah calon pasangan tampan, tinggi, gagah, maka secara garis besar, fisik keturunan kita tidak jauh beda dari keluarga ayah calon pasangan.
  • Keluarga ibu calon pasangan kita akan mewarisi sifat atau karakter kepada anak keturunan kita nanti. Contoh: keluarga ibu calon pasangan kita baik, sopan, ahli ibadah, maka sifat atau karakter keturunan kita nanti tidak jauh beda dari keluarga ibu calon pasangan.
3. Mengenali lingkunganya
Dengan mengenali lingkungan calon pasangan, kita juga bisa mengenali sifat dan karakter pasangan kita. Contoh: pasangan kita sering mendatangi kajian-kajian ilmu, kuliah di perguruan tinggi Islam, bekerja di perusahaan yang baik, maka dapat dipastikan calon pasangan kita adalah orang baik dan layak untuk kita nikahi, begitu sebaliknya.
Demikian 3 tips mengenal calon istri tanpa pacaran. Semoga bermanfaat.

Inilah!! Golongan Orang-Orang yang Celaka Karena Puasa Ramadhan.

Sesungguhnya setiap ibadah membawa dua potensi yang senantiasa beriringan satu sama lainnya. Satu sisi sebuah ibadah kemungkinan bakal jadi ladang pahala yang bakal kami panen di kampung akhirat nanti. Tapi sisi lain, terkecuali kami tidak mencukupi syarat, adab dan rukunnya mampu jadi sebuah ibadah justru jadi fitnah bagi kami di hari akhir nanti. Naudzu billah min dzalik...

Contoh yang paling tahu didalam persoalan ini terdapat didalam sebuah ayat yang udah sama-sama kami hafal bersama, didalam surat al-Maun disebutkan ancaman Allah SWT kepada orang-orang yang shalat. Allah berfirman didalam kitabnya yang mulia: “ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya” (QS Al-Maun: 3) 

Golongan Orang-orang yang Celaka Akibat Puasa Ramadhan

1. Orang Yang Berpuasa Tanpa Niat.
Rasanya jadi penting bagi kami untuk tahu mengapa orang yang berpuasa mampu mendapat kecelakaan yang sedemikian tidak baik semacam itu. Setidaknya ada empat kesalahan orang berpuasa yang mampu menjerumuskan mereka didalam dosa dan kehinaan, mari bersama dengan merenungkannya.

Rasulullah SAW bersabda didalam hadits yang udah sangat kondang di telinga kami : Innamal a’maalu binniyaaat. Yaitu : Sesungguhnya setiap amal bergantung terhadap niatnya ....( HR Muttafaqi Alaih). 
http://pa-nurulislam.blogspot.co.id

Maka berpuasa tanpa keikhlasan ibaratnya surat perjanjian tanpa stempel dan materai, jadi tidak berlaku dan sia sia begitu saja. Pertanyaannya adalah, puasa seharusnya melatih orang untuk ikhlas, karena ia merupakan ibadah antara seorang hamba dan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda : 
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda: “Semua amal manusia adalah miliknya, terkecuali puasa, sebetulnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang bakal memberi tambahan balasannya, (H.R. Bukhari). 

Tapi sungguh sayang sekali, ternyata tetap ada yang ternoda keikhlasannya didalam berpuasa karena godaan riya, harta maupun kecenderungan diri pribadi. Puasa diliputi riya, karena dambakan dianggap, dihargai dan dipuji orang lain sebagai orang yang berpuasa.
Bisa jadi karena ewuh pakewuh bersama dengan mertua, atau takut bersama dengan pimpinan di kantor, atau kemungkinan dambakan eksis di tengah rekan sejawat. Semua itu sungguh meluruhkan pahala puasa yang mulia. 

Ada pula orang yang berpuasa karena mengincar harta, kemungkinan saja ini lebih banyak berjalan terhadap anak-anak kami yang dambakan hadiah dari para orangtua waktu lebaran nanti, karena mampu selesaikan puasa bersama dengan sempurna. 
Selain itu, ada terhitung yang berpuasa bersama dengan bersemangat, bukan karena kewajiban semata namun terhitung karena keinginan pribadi untuk diet dan turunkan berat badan. Sungguh ini semua terkecuali tidak dihapus didalam hati, bakal mengotori keikhlasan puasa kita, dan kami terjerumus didalam golongan mereka yang berpuasa tanpa pahala.

2. Orang yang berpuasa tanpa ilmu. 
Tidak tahu mana yang membatalkan dan mana yang tidak. Maka mereka menekuni puasa tanpa aturan, atau tahu tidak bersama dengan seutuhnya benar. Akibatnya, puasa mereka jadi begitu rapuh dan tanpa makna. Menyangka udah melaksanakan perihal yang benar padahal sejatinya salah.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda :“seorang faqih (ahli pengetahuan agama) lebih ditakuti syetan dari terhadap seribu pakar ibadah (tanpa ilmu) “. (HR Ibnu Majah).


Maka marilah meningkatkan kualitas ibadah puasa kami bersama dengan tahu seutuhnya hukum-hukum seputarnya. Mari terus membaca, membahas dan bertanya, agar mampu menjalankan semua alur ibadahnya bersama dengan kepercayaan yang nyaris sempurna. 

3. Orang yang berpuasa cuma dari makan minum dan berhubungan badan semata, dan mulai bahwa bersama dengan itu mereka udah mencukupi semua keputusan dan tuntutan puasa. Barangkali kami mesti mengingat lebih didalam petunjuk rasulullah SAW berkaitan didalam persoalan ini: “Barang siapa yang tidak meninggalkan berbicara dusta dan beramal kedustaan, maka Allah SWT tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya” (HR Bukhori) 

Mereka didalam persoalan ini berpuasa namun tidak mampu menundukkan nafsu dan emosinya. Maka mereka menodai siang hari ramadhan bersama dengan lisan yang tak terjaga dari ghibah, marah dan berbicara dusta, atau anggota badan yang tidak terjaga dari dosa dan kemaksiatan.

4. Orang yang menjalankan ibadah puasa bersama dengan penuh kemalasan, didalam arti tidak tahu kemuliaan bulan Ramadhan yang bertaburan berkah. Mereka tidak tahu dan tahu bahwa Ramadhan bukan cuma bulan puasa saja, namun lebih dari itu ia adalah bulan musim kebaikan yang disyariatkan banyak amal kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda berkenaan bulan mulia ini : “(Bulan dimana) dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu. Dan berserulah malaikat : wahai pencari kebaikan, sambutlah. Wahai pencari kejahatan, berhentilah” (demikian) hingga berakhirnya ramadhan (HR Imam Ahmad) 

boombastis.com

Golongan ini berpuasa namun tidak menjalankan tarawih, tilawah dan tadarus. Tidak pula berupaya untuk bersedakah, memberi berbuka terhadap orang yang berpuasa. Atau tidak pula menyempatkan diri untuk i’tikaf dan amal kebaikan secara umum. Mereka cuma berpuasa dan menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan di siang hari, selanjutnya makan pestapora di malam hari.

Akhirnya, semoga kami terhindar dari peringatan Rasulullah SAW berkenaan mereka yang berpuasa namun sia-sia didalam pahala dan keutamannya. Semoga Allah SWT merawat kami agar tidak terjerumus didalam empat golongan mereka yang berpuasa namun celaka. Wallahu a’lam bisshowab 

Followers